Hamba Allah, Bukan Hamba Uang!

Oke, saya butuh sedikit distraksi maka saya mampir ke sini.

Hai semua!

Sudah terlalu lama saya mengabaikan blog ini. Saya cuma ke sini saat butuh saja. Kalau dia pacar, pasti saya sudah diputusin deh. Hehe..

Hari ini di tengah jam kerja, saya ingin sedikit cerita.

Oh iya, by the way, sekarang saya balik kerja di PKPU lagi lho. Setelah tunai janji bakti di Pencerah Nusantara, ternyata saya masih berjodoh dengan PKPU. Ceritanya panjang. Intinya mah saya masih dipercaya untuk berkhidmat di sini, mengoptimalkan segenap potensi untuk belajar dan berkontribusi. #seriusamat

Balik ke niat cerita.

Agak sensitif nih karena akan bahas gaji. Hehe.. Tapi bukan di bagian gajinya sih yang jadi inti ceritanya.

Tiga hari yang lalu ada orang yang cerita ke saya bahwa dia ingin sekali bisa keluar dari tempat kerjanya yang sekarang karena dia sudah bosan dan ingin menggeluti hobinya untuk jadi lahan bisnis. Kebetulan di kantornya sedang ada perampingan SDM. Dia berharap bisa dipecat, tetapi nyatanya tidak.

“Sayangnya aku ga masuk ke daftar yang diberhentikan. Aku ga mau ngundurin diri karena pesangonnya palingan cuma 70 juta. Kalau dipecat bisa sampai 500 juta. Nah hutang aku ada 250 juta.” begitu celotehnya.

Langsung hati saya seperti ingin mengomentari kalimat tersebut dengan lebih panjang lebar lagi. Namun otak saya bilang “tidak usah”. Jadilah saya mau nyampah di sini sahaja, hahaa..

  1. Ternyata benar kata orang. Gaji besar belum tentu bahagia. Manusia tidak akan pernah merasa puas. Makin besar pendapatan, makin besar pengeluaran. Betul sekali.
  2. Sebelumnya saya pernah dapat gaji yang lebih besar dari gaji sekarang. Tapi ternyata sama saja habisnya, haha.. Jadi sebenarnya mau gaji sebesar apa juga tidak akan pernah cukup jika tidak kita syukuri.
  3. Banyak-banyaklah bersyukur. Mungkin gaji saya tidak sebesar dia. Tapi alhamdulillah saya tidak punya hutang, masih bisa makan enak, hidup layak, bermanfaat untuk orang lain. Alhamdulillah.. Semoga Allah swt meridhoi dan memberkahi.

Intinya mah, saya ingin mengingatkan untuk banyak bersyukur dan lebih apik menata hidup. Bukan untuknya, bukan untuk siapa, tapi untukku.. (hazeekk.. cuplikan puisi di AADC nih, pada tau kagak ya? haha..)

Semoga kita senantiasa jadi hamba Allah, bukan hamba uang.

syukur

 

 

Takdir

Selamat pagi, pemirsa!

Di awal 2016 ini saya terinspirasi membuka blog lagi setelah sekian lama tidak saya sentuh. Daaaaann… ternyata ada sebuah pesan dari seseorang yang tidak saya kenal menanyakan sesuatu.

Untitled

Lalu saya jawab:

Untitled 2

Saya sungguh berharap dia membaca balasan saya segera. Tidak seperti saya yang menelantarkan blog sampai mungkin dipenuhi sarang laba-laba.

Jikalau kelak dia betul-betul mendaftar Pencerah Nusantara karena info dari saya (ataupun mungkin dari sumber lain yang lebih cepat meresponnya), tentulah itu sudah ditakdirkan sejak sebelum ia dilahirkan. Namun, jika pun ia tidak jadi, itu juga pasti adalah yang terbaik untuknya. InsyaAllah

Yang ingin saya garisbawahi adalah betapa takdir begitu misterius, sering memberi kejutan dimana-mana. Salah satu film kontroversial yang pernah saya tonton pernah menyajikan dialog bahwa “Tuhan tuh sutradara banget ya”. Embeeeerr…

Kita punya rencana, tapi Dia yang maha berkuasa atas segala rencana.

Pernah nonton film “Now You See Me” nggak?

Di film tersebut, pemeran utamanya luar biasa membuat strategi sejak dia kecil untuk membalas dendam. Rapi, benar-benar well prepared dan well-organized. Namun, pada akhirnya tidak semua rencana berjalan mulus. Karena ada seseorang yang dikirim sebagai agent untuk menyelidiki kasus tersebut. (lengkapnya silahkan tonton sendiri)

Dialog yang disampaikan kurang lebih begini. “Semuanya sudah kuperhitungkan. Namun satu hal yang tidak ada dalam perhitunganku, yaitu kamu”

Terlepas dari rasa “geuleuh” sama adegannya. Hikmah yang bisa kita ambil adalah Dia Yang Maha Mengatur segalanya.

Kembali kepada bahasan kita soal takdir, kita hanya dapat mengerti apa hikmah dari takdir yang menimpa kita pada saat takdir tersebut sudah terjadi. Tugas kita hanya menjalaninya dengan penuh pikiran positif, mengedepankan segala upaya yang kita punya, dan semoga kelak semua berakhir dengan baik.

al baqarah 216.jpg

Selamat berusaha dan berbaik sangka!

 

Jakarta, 6 Januari 2016

Di sela-sela kerja (semoga bos nggak baca, hihi..)

 

Perjalanan Panjang Meminang Pencerah Nusantara #1

Pencerah Nusantara (disingkat PN). Saya mengenalnya pertama kali di pertengahan akhir 2012. Pertemuan yang tidak disengaja sama sekali. Pertemuan yang awalnya hanya seperti angin lalu, tapi ternyata kemudian kembali datang dan datang dalam kehidupan saya.

Hari itu akhir pekan ketika saya sedang bersiap berangkat menuju Garut untuk pendakian Gunung Papandayan. Basecamp kelompok pendakian kami yang berlokasi di Depok mengharuskan saya memikirkan tempat untuk menitipkan motor selama saya dan teman-teman pergi ke luar kota. Akhirnya saya mencoba peruntungan dengan mendatangi Asrama Putri Rumah Qur’an di Gang Kapuk karena di sana ada beberapa orang teman yang saya kenal.

Tanpa diduga, saya bertemu Amri (Perawat PN Pertama) yang merupakan teman dari teman saya di FIK UI. Saat itu ia sedang sibuk berkemas karena konon esok harinya adalah hari pertama pelatihan PN. Sambil sibuk memasukkan barang-barang ke kopernya yang besar, dialog antara kami pun mengalir.

Amri menjelaskan PN sebanyak yang ia ketahui. Ia menyebutkan bahwa salah seorang adik tingkat saya, yaitu Vidia Nuarista, juga lolos seleksi PN di gelombang yang sama dengannya.

Saat itu, ada 2 hal besar yang terbersit di benak saya. Pertama, PN adalah mimpi saya; bekerja di pedalaman, pemberdayaan masyarakat, dan Kesmas banget. Kedua, mengapa informasi sepenting ini bisa luput dari saya? Mengapa tidak ada seorangpun yang memberitahu saya? Bahkan tidak juga Vidia.

Namun, detik kemudian pikiran saya teralihkan akan ingatan bahwa saya baru saja memulai langkah di pekerjaan saya yang sekarang, di Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU. Akhirnya, PN terlupa seiring perjalanan saya menyusuri kawah belerang dan berkemah di Pondok Saladah.

Itu yang pertama. Saya dan PN belum berjodoh.

Kemudian pada sekitaran April 2013, saya kembali bertemu dengannya, dengan PN. Saat itu, tanpa disengaja (lagi) saya terpapar link publikasi pendaftaran PN angkatan ke-2.

Penasaran, saya coba membuka laman tersebut. Saya baca dengan seksama berbagai informasi di dalamnya. Mulai dari profil PN, syarat, serta menonton video animasi kece yang mengilustrasikan PN dengan sangat menarik.

Saya pun kemudian membuka laman pendaftaran, membuat akun, lalu mengisi satu-persatu field di bagian biodata. Ketika sampai pada bagian esai, saya terhenti karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Maklumlah, waktu itu posisi saya di kantor adalah Koordinator Program.

Akhirnya niat saya meminang PN di tahun tersebut saya urungkan. Saya tidak tega meninggalkan kantor dengan kondisi staf program saya ‘anak baru’ semua.

Perasaan saya agak ‘nyeess’ setiap kali email dari PN masuk dan mengingatkan bahwa waktu pendaftaran PN angkatan ke-2 tinggal beberapa hari lagi. Namun, hidup adalah pilihan dan pada saat itu saya memilih bertahan di PKPU.

Itu yang kedua. Saya dan PN masih belum berjodoh.

Ternyata untuk membuat yakin dan akhirnya secara sadar meminang PN, saya harus terlebih dahulu singgah di salah satu lokasi penempatan. Tidak tanggung-tanggung, di pertengahan Oktober 2013 itu saya menyambangi Pulau Ende, Nusa Tenggara Timur.

Sebenarnya tujuan utama perjalanan dinas dari kantor saat itu adalah Kupang. Namun, atas instruksi atasan, saya diminta mencari data survey di lokasi lain yang kira-kira potensial untuk menjadi wilayah baru untuk program.

Maka saat itu juga saya teringat pada sebuah nama; Nurul. Ia adalah lulusan FIK UI (juga seangkatan dengan Amri dan saya) yang seingat saya sedang ditempatkan sebagai perawat PN di Pulau Ende. Tanpa pikir panjang, saya langsung menghubungi Nurul via telepon.

Saya bertanya pada Nurul mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat di Pulau Ende sebagai data awal survey saya. Saya juga meminta padanya untuk menemani saya berkeliling Pulau Ende. Sayangnya, saat itu ternyata adalah masa transisi dimana PN 1 sibuk mendampingi PN 2. Akhirnya saya ke Pulau Ende tanpa ditemani Nurul.

Nah, selanjutnya adalah klimaks alasan saya yakin mendaftar PN di tahun berikutnya.

…bersambung…
(namanya juga perjalanan panjang mah kudu bersambung, hihi..)

MENYOAL JAM KERJA PENCERAH NUSANTARA

Sudah genap tujuh bulan sejak kami menginjakkan kaki di Bumi Roro Anteng dan Joko Seger ini. Namun masih banyak teman, kerabat, dan keluarga yang bertanya “Apa sih kerja kalian di sana?” Sebagian lagi bertanya, “Belum berangkat kerja?” atau “Hari Sabtu libur nggak?”

Agak rumit memang menjelaskan pekerjaan seorang Pencerah Nusantara. Setiap bertemu dengan orang baru yang bertanya “Tinggal dimana, Mbak?” yang kemudian berlanjut dengan “Kuliah atau kerja?” butuh waktu setidaknya beberapa belas menit sampai akhirnya orang tersebut mengerti siapa kami dan apa yang kami lakukan di sini.

Pada dasarnya, tugas utama seorang Pencerah Nusantara (selanjutnya disebut PN) adalah memperkuat pelayanan kesehatan dasar untuk masyarakat di wilayah sasaran. Itulah mengapa kami ditempatkan di Puskesmas. Jika hanya mengacu pada tugas tersebut, maka jam kerja kami kurang lebih sama dengan jam kerja Puskesmas pada umumnya.

Namun, lebih dari itu. Tugas PN yang lain adalah mengubah paradigma masyarakat dari paradigma sakit menjadi paradigma sehat, dari mengandalkan pengobatan menjadi lebih sadar untuk menjaga kesehatan, dari pesimis menjadi optimis akan perubahan yang akan membuat diri dan lingkungannya menjadi lebih baik.

Untuk itu, kami dituntut untuk bisa hidup membaur dengan masyarakat. Merasakan langsung posisi, sekaligus menggali berbagai potensi yang kelak akan melanggengkan pencapaian tujuan utama program.

Akhirnya biasa bagi kami berktivitas dari pagi hingga malam hari. Bahkan tidak jarang pula kami harus menginap di salah satu desa yang kami kunjungi karena medan menuju rumah rawan ditempuh saat hari sudah gelap. Karena sebagian besar masyarakat di sini bertani di pagi hingga sore hari, maka jam aktivitas kami pun seringkali harus menyesuaikan mereka.

Kasihan? Berat? Ah, tidak juga!

Saat harus beraktivitas hingga larut malam, fleksibilitas jam kerja memungkinkan kami untuk dapat beristirahat di siang hari. Ini penting untuk menjaga kebugaran dan kesehatan badan agar tidak sakit di rantau orang.

“Pokoknya jam kerja itu kita yang atur sendiri. Terserah, yang penting kerjaan beres”, seperti itu saya biasa menjelaskan ke teman yang bertanya tentang jam kerja PN kepada saya.

Bagaimana dengan hari Minggu atau hari libur lainnya?

Sekali lagi, kami menyesuaikan dengan aktivitas masyarakat yang menjadi sasaran dan mitra kerja. Bukan hal yang aneh bagi kami jika pada hari Minggu justru aktivitas padat merayap dari pagi hingga malam.

Kalau memang harus mengisi penyuluhan di pertemuan kelompok PKK yang biasa dilaksanakan pada Minggu malam, ya kami tetap berangkat dengan penuh semangat. Sebaliknya, jika weekend kami habis untuk mengerjakan aktivitas program yang sangat melelahkan, maka weekday pun halal untuk dijadikan hari libur. Tentunya atas kesepakatan dan izin dari seluruh anggota tim yang terdiri dari lima orang.

Tidak mudah awalnya memiliki ritme kerja seperti ini, terutama bagi saya yang terbiasa memiliki jam kerja rigid di kantor. Namun, dengan pengertian dan saling dukung antaranggota tim, jam kerja yang super fleksibel ini akhirnya menjadi seni tersendiri bagi kami, para Pencerah Nusantara Tosari.

Puskesmas Tosari,
21 April 2015

Rahasia Saya #2

Setelah bertahun-tahun lamanya nggak kambuh sama sekali, semalam alergi saya kumat lagi. Saya nggak tau pasti sih kambuhnya ini karena apa. Tapi sepertinya karena makan 3 ekor udang yang nangkring di sebuah bakwan.

Awalnya saya mual dan sakit perut. Kalo yang ini sih mungkin saya masuk angin. Saya tahan-tahan sampai jongkok-jongkok. Tapi kemudian tiba-tiba saya merasa gatal.

Pertama di kepala. Lalu dengan c

epat merembet ke leher, tangan, lalu seluruh badan. Mana gatelnya ga santai pulak. Dan parahnya saya sedang berada di tengah acara di desa sebelah. Yasudah saya langsung minta pulang, lalu ngebut bawa motor kayak orang kesetanan.

Dulu memang saya sangat sering alergi begitu. Makan ikan teri aja bisa kambuh. Apalagi kalau makan udang, kerang, beuuuhh..

Kalo sudah demikian, biasanya bapak yang paling sabar menghadapi saya yang kegatelan, hehe.. Bahkan terakhir kali kambuh itu saya ingat waktu tengah malam begitu, bapak sempat-s

empatnya

nyolokin setrikaan, nyetrika kain, lalu kain yg hangat itu ditempelkan ke badan yang gatal. Karena waktu itu tengah malam. Semua yang jual obat sudah tutup.

Dulu waktu SD, saking seringnya kambuh, saya sampai langganan berobat ke satu tempat. Dan semalam setelah menenggak sebutir cetirizine, saya langsung tidur kayak orang mati, lalu mimpi ke tempat saya biasa berobat yang entah masih praktek atau tidak.

Fiuh… dasaar..

Rahasia Saya #1

Ada yang percaya nggak kalau dulu saya ini pendiam? Saya pernah mengalami fase-fase tidak terlalu percaya diri sehingga hanya berani berbicara dengan orang yang memang sudah saya kenal.

Namun entah sejak kapan, saya jadi orang yang bawel. Hehe…

Saya menikmati berbincang dengan orang-orang baru. Bahkan yang mungkin hanya akan saya temui saat itu saja, seperti petugas stasiun, tukang duren, siapa saja lah. Ternyata semua orang bisa diajak ngomong lho, hehe..

Dari perbincangan yang random tersebut, tidak jarang saya mendapat banyak pelajaran berharga. Pengalaman memang guru yang paling baik, tidak terkecuali pengalaman orang lain.

Kalau saya ingat-ingat lagi sekuat tenaga, sepertinya bakat supel ini memang sudah mengalir dalam darah saya dari Bapak. Bapak yang seorang supir angkot ternyata sering sekali mengajak ngobrol penumpangnya. Bahkan pernah suatu hari orang yang Bapak ajak ngobrol adalah teman seorganisasi saya. Mereka berdua lalu sama-sama kaget saat perbincangan mereka sampai pada topik “saya”.

Nah, organisasi!
Ini yang sepertinya menjadi asahan yang mempertajam bakat saya tadi. Di organisasi saya belajar bicara. Tidak hanya pakai mulut, tapi juga hati #tsaaahhh…

Makanya rugi kalau ndak pernah ikut organisasi. Di sana banyak ilmu yang tidak akan pernah kita dapatkan di ruang-ruang kelas.

—-
Pasuruan, 6 Februari 2015
Di perjalanan kereta menuju Jombang

Konferensi Pers #2

Ingatkah Anda dengan konferensi pers #1 yang pernah saya post beberapa bulan yang lalu? Itu lho.. yang saya ga lanjutin karena ngantuk. Hihi… ini saya ceritain tapi kilat aja ya..

10 Agustus 2014 itu saya dan koper saya berangkat ke TMII, tepatnya di museum listrik, untuk pembekalan sebelum penugasan. Saya juga baru tahu di museum listrik itu ada wismanya, yang kemudian jadi rumah saya selama 5 minggu berikutnya.

Gile… sebulan lebih ngendon di TMII. Ngapain ajeee???

Eits.. siapa bilang cuma di TMII? Museum ini cuma jadi basecamp untuk tidur, materi umum, dan evaluasi rutin. Ya jadi rumah deh. Tapi mungkin ada setengahnya kami dibekali di luar “rumah”.

Hari kedua di TMII kami harus packing untuk pelatihan di Akademi Militer Magelang. Awalnya ngeri. Tapi ternyata seru banget. Pengen cerita tapi pasti nanti puanjang banget deh. Ga usah deh yaa…

Hari-hari berikutnya kami bolak-balik TMII-Cikini-Salemba untuk pembekalan medis dan belajar kedokteran komunitas. Sesekali kami dapat tugas. Wuih.. pokoknya padet bingits deh itu hari-hari. Tapi sungguh ngangenin.

Lalu tiba2 waktu 5 minggu berakhir dan saya terdampar di bumi khayangan ini, Tosari. Bersama 4 orang lain yang ternyata sama nggak warasnya sama saya. Hehehe…