Memoar Pendakian #1 – Gede yang Paling Ideal

Pernah saya ceritakan sebelumnya bahwa Gunung Gede adalah pengalaman pertama saya mendaki. Tanpa persiapan sama sekali, saya “terpaksa” terlibat di perjalanan ini sebagai pengganti.

Allah Mahatau bahwa saya benar-benar lemah saat itu. Alhamdulillah Dia mudahkan pendakian ini. Diantara seluruh pendakian saya sampai saat ini, pengalaman pertama di Gede lah yang saya rasa paling Ideal. Paling mudah bisa dilihat dari itinerary berikut.

JUMAT

19.00 kumpul di basecamp untuk re-packing

22.00 naik bus dari jalan baru pasar rebo, tiba di pintu masuk jalur pendakian Gunung Putri sekitar tengah malam

SABTU

05.00 sholat subuh, mandi (seinget saya ya hehe..), ngeteh, siap2

06.00 mulai mendaki, sarapan di tengah jalan

15.00 sholat zuhur-ashar di Surya Kencana, masak, makan siang, bangun tenda

18.00 bersih-bersih, sholat maghrib-isya, masak, makan malam

20.00 tidur

MINGGU

05.00 sholat subuh (gak jadi summit dini hari untuk ngejar sunrise karena gak kuat ngantuk dan lelahnya), snack pagi, bongkar tenda

06.30 summit

08.30 sampai di puncak, masak, makan

10.00 turun lewat jalur Cibodas

16.30 sampai bawah, sholat zuhur-ashar, bersih-bersih, makan, pulang

21.00 sampai Jakarta (kalau tidak salah, lupa jamnya)

Waktu itu Bulan Juli 2012 (tanggal 13 kalau tidak salah, itu weekend terakhir sebelum Ramadhan). Bahagia luar biasa karena waktu itu Edelweiss di Surken sedang bermekaran. Pun waktu itu selama pendakian cuaca cerah.

Beberapa kemewahan yang saya rasakan:

– Bunga edelweiss dimana-mana. Termasuk semak-semak untuk buang air. Hahaa.. kapan lagi kan menunaikan hajat dengan dekorasi edelweiss di sekitarnya.

– Saya cukup bawa daypack segede tas sekolah. Itupun akhirnya dibawain sama teman saya supaya saya jalannya lebih ngebut. Hehe..

– Bisa merasakan lewat sumber air panas di Cibodas dong. Alhamdulillah di siang hari karena jalan setapak yang dialiri air terjun panas itu pinggirnya langsung jurang sih. Ini tidak saya rasakan di pendakian Gede yang kedua karena harus turun lewat Gunung Putri lagi.

Beberapa catatan kurang menyenangkan:

– Tidur di tenda kapasitas 4 cuma berdua di Surken (lembah) saat musim kemarau itu ternyata menyebabkan sulit tidur karena kedinginan yang luar biasa.

– Tidak latihan fisik sebelum naik gunung menyebabkan kaki sakit luar biasa selepas turun gunung. Saya teriak saking kesakitan waktu jongkok saat mau buang air ketika sampai di bawah. Nanti saya buktikan bahwa latfis yang proper bisa menyelamatkan dari sakit kaki saat pendakian ke Semeru.

Oh iya, di sini juga saya pertama kali dapat ilmu menuruni gunung. Ternyata turun gunung juga ada tekniknya. Alhamdulillah nanti sampai pendakian-pendakian berikutnya saya tetap jadi jagoan turun hehe..

Iklan

(Bukan) Selebriti Hijrah – Part I

Di youtube lagi rame banyak video tentang hijrahnya seleb. Saya nontoin satu-satu walau belum semuanya haha.. Lumayan haru juga ya, satu-dua ada yang berhasil bikin saya nangis karena nggak mudah hijrah bagi mereka.

Bagi saya sendiri, hijrah tergolong mudah. Rasanya Allah swt buka aja gitu jalan-Nya satu persatu buat saya. Saya seperti dituntun, nggak sepenuhnya memutuskan sendirian.

Proses hijrah saya tidak lepas dari pengalaman spiritual (tsaah..) tentang jilbab. Waktu itu tahun 2004 ketika saya ada di penghujung masa SMP.

Salah seorang sahabat terakrab saya, namanya Erni, mengajak saya untuk berjilbab ketika masuk SMA nanti.

Ampun deh, waktu itu masa SMA di bayangan saya macam di sinetron dan FTV haha.. Cita-cita di SMA adalah jadi anak gaul berprestasi yang ibaratnya punya slogan “buku, pesta, dan cinta” gitu.

Saya sempat bertanya ke diri saya sendiri, “Kapan ya saya akan pakai jilbab? Apakah lulus SMA, selesai kuliah, kerja, atau sesudah nikah?” Sama sekali nggak pernah kepikiran mau pakai jilbab. Suer!

Kemudian saya menjawab Erni dengan “Aku belum siap Ern, kamu duluan aja.” Berimbas pada Erni yang tidak jadi berjilbab karena tidak ada teman. Ckckck.. Ira, Ira.. tapi nggak lama setelah itu Erni pakai jilbab kok.

Masuk SMA, saya sekelas lagi dengan Erni, dan Elin. Ini kita bertiga (sebenarnya berempat, tapi Maya masuk SMA lain) bisa dibilang mengikrarkan diri jadi geng sejak kelas 3 SMP. Apa-apa berempat terus deh. Punya nama geng juga, tapi rahasia ah, malu. Hehe..

Pun memilih ekskul, kami bertiga janjian memilih KIR (Karya Ilmiah Remaja) karena dulu di SMP kami anak KIR. Itu saya masih ingat betapa Langab (Latihan Gabungan – salah satu rangkaian Masa Orientasi Sekolah) untuk anak KIR agak menyiksa, walau nggak semenyiksa anak teater sih haha.. Kakaknya masih ada yang baik-baik.

Ini beda banget sama anak Rohis. Mereka itu subhanallah adem ayem banget. Anak-anak OSIS juga nggak berani macam-macam sama anak Rohis, katanya takut kualat. Padahal waktu promosi ekskul, kakak-kakak Rohis sudah bisik-bisik, “kalau masuk Rohis, nanti aman, nggak dipelonco”. Cuma ya namanya belum dapat hidayah, saya nggak tertarik tuh. Hahaa..

Pun waktu dapat undangan mentoring perdana dari Rohis, saya malah kabur. Padahal waktu itu di mentoringnya ada somay party. Cuma saya dengar kabar (yang ternyata hoax tapi saya bodoh banget percaya aja) bahwa yang namanya mentoring itu adalah “lo akan duduk minimal 2 jam dengerin kakak mentornya ngomong”. Mengerikan.

Cerita selanjutnya malah nanti terbalik. Rohis yang saya tolak ini nantinya akan saya kejar-kejar. Ibarat Bryce Loski di film Flipped yang kualat ngejar2 Juli Baker yang awalnya dia tolak mati-matian.

Lanjut yaa..

Sekitar 2 bulan kemudian, di salah satu Hari Jumat, tumben-tumbenan saya malas pulang cepat. Geng saya mah sudah ngibrit duluan karena hari itu juga tidak ada kegiatan KIR.

Kemudian entah dapat dorongan dari mana, saya yang sedang sendirian terdorong untuk mampir ke kelas X-3 yang berjarak 2 kelas dari kelas saya, X-1. Di sana sedang ada kegiatan keputrian, sejenis kajian khusus muslimah selama para muslim sholat Jumat.

Kalau diingat-ingat, waktu itu saya agak nggak tau malu ya masuk ke sana. Pasalnya, tidak ada satupun siswi dari kelas saya. Tapi ada sih beberapa orang yang saya kenal karena dulu kami satu SMP. Maklumlah, anak-anak SMP 81 yang masuk SMA 48 tuh udah kayak bedol desa. Buanyaaaaakkk..

Yasudah saya permisi, lalu gabung dengan mereka.

Dulu 48 masih prihatin, belum ada AC, jadi kalau tengah hari gitu agak gerah. Saya waktu itu, karena hari Jumat wajib berpakaian muslimah, memakai jilbab langsung yang bertali mirip mukena, tau nggak? Haha..

Lalu terjadilah percakapan ini.

Saya: “Kak, boleh lepas jilbab?”

Kakak Rohis: “Boleh kok, nggak apa-apa”

Saya buru-buru lepas. Tapi beberapa menit kemudian saya pakai lagi jilbabnya.

Kakak Rohis: “Loh kok dipakai lagi?”

Saya: “Habisnya cuma saya yang nggak pakai Kak”.

Malu saya rupanya. Hahaa..

Sejak saat itu, saya jadi sering kumpul sama anak-anak Rohis di mushola. Biasanya selepas sholat, saya ikutan “ngagoler” bareng mereka. Pokoknya sok akrab banget deh.

Sering bergaul sama ukhti-ukhti berjilbab membuat saya “celamitan”. Rasanya kok kalau pakai jilbab adem bener ya. Waktu itu bulan ketiga saya SMA dan saya merasakan fenomena pingin pakai jilbab rasanya seperti kebelet pipis, tak tertahankan lagi. Sepertinya itu yang disebut mendapat hidayah.

Orang yang pertama saya ingat adalah Erni. Saya langsung ke wartel (Yaa Allah, jadul amat yak) dan menelepon Erni.

Saya: “Erni, kamu masih pingin pakai jilbab nggak?”

Erni: “Yah, aku udah nggak kepingin Ra”

Setelah sedikit bujuk rayu saya ke Erni tidak berhasil, saya memutuskan untuk pakai jilbab sendiri. Saya takut kalau menunda-nunda nanti keinginan ini hilang.

Saya coba menimbang-nimbang, kalau mau pakai jilbab berarti saya harus beli seragam baru. Ibu saya bisa nyap-nyap alias marah kalau baru 3 bulan sekolah saya sudah minta seragam baru. Qadarullah waktu itu saya punya uang yang dikasih sama paman saya. Tidak terlalu banyak memang, jadi saya harus berstrategi. Setelah minta restu orangtua (yang sungguh mudah) untuk berjilbab, saya langsung siap-siap.

Baju putih kan ada satu, yang biasa dipakai di hari Jumat. Tapi kan nggak mungkin 5 hari saya pakai itu terus. Jadi saya beli kemeja putih. Rok putih alhamdulillah sudah ada, waktu kelas 3 SMP dibelikan oleh kepala sekolah untuk seragam lomba cerdas cermat Loketa mewakili sekolah. Nah tinggal baju batik. Saya masih ada sisa bahan yang cukup untuk mengganti lengan baju jadi panjang.

Waktu itu sore hari Senin 11 Oktober 2004, saya ke tukang jahit. Kamis 14 Oktober 2004 (seragam Kamis adalah baju batik) adalah hari terakhir masuk sekolah sebelum libur puasa Ramadhan. Saya bertekad dalam hati, kalau hari Rabu baju batik saya sudah selesai, saya akan pakai jilbab di Hari Kamis. Tapi kalau belum, saya akan pakai jilbab setelah libur puasa.

Dan ibu penjahit yang biasanya jahitnya lama, entah kenapa bisa selesai cepat menjahit baju saya. Rabu sore baju sudah selesai di jahit, pertanda Kamis saya sudah harus pakai jilbab.

Julid memang tidak mengenal zaman. Pun masa itu, banyak yang meledek saya. Memang agak drastis sih, saya yang tomboy dan “rada badung” ini tetiba berjilbab. Tapi mah mental baja, saya bisa melalui badai itu tidak lama. Alhamdulillah saya berjilbab.

– B.E.R.S.A.M.B.U.N.G-

Kelewat Mandiri

Entah sejak kapan saya mulai suka bepergian sendirian. Padahal dulu saya adalah sesosial-sosialnya makhluk sosial. Setiap sedang sendirian, saya selalu merasa ada yang tidak beres dengan diri saya (padahal itu cuma sesaat waktu pergantian kelas kuliah pertama dan kedua). Iya, selebay itu.

Sepertinya sih saya mulai suka pergi sendirian sejak teman-teman saya tidak semudah dulu lagi saya akses. Masing-masing sudah dengan kesibukannya masing-masing. Pun saya memilih untuk menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan (yang sayangnya) tidak beririsan dengan mereka.

Terlebih setelah saya lancar bawa motor sendiri kemana-mana. Saya jadi punya patokan waktu yang berbeda dengan ketika naik kendaraan umum dulu. Sekarang, dalam sehari saya bisa berkegiatan di 4 tempat yang berbeda karena mobilitas yang mudah. Saya jadi agak malas kalau harus menunggu-nunggu orang lain karena saya terlanjur “kelincahan”.

Suatu hari saya mau pergi nonton. Teman-teman kantor cuma 1 orang yang bisa ikut. Sayangnya dia lelaki. Ya mendingan saya pergi sendiri lah. Ternyata nonton sendirian seru juga. Sejak itu beberapa kali saya nonton di bioskop sendirian. Bahkan pernah marathon 2 film sekaligus hehe..

Kondangan sendirian? Jangan ditanya. Dulu sih biasanya kalau kondangan bisa sekompi tuh. Pasti saya bakal hubungi banyak teman-teman untuk kondangan berjama’ah. Tapi lama-lama kelamaan janjian-janjiannya daripada kondangannya. Yaudah mending langsung “ngeeeeng” sendirian. Kalau kejauhan pakai motor ya saya ngeteng aja sendirian.

Pernah sih diberi nasihat oleh ibunya teman, “Ira, jangan keseringan pergi-pergi sendirian ah, nanti takutnya keterusan”. Sepertinya kelewat mandiri juga tidak baik.

Hmmm…

Gimana ya? Kadang bukan takut di-PHP-in teman pas janjian. Takutnya saya yang PHP, berubah pikiran, dsb. Kalau pergi sendiri kan fleksibel tuh hehe..

Sepertinya selama belum ada yang merasa terganggu dengan ritme hidup saya yang begini, saya akan tetap begini deh. Walau kadang tetap ajak-ajak teman untuk pergi-pergi, tapi mungkin saya tidak akan pernah lagi serajin dulu mengajaknya.

Ciracas, Hari Kartini 2018

22.47

Saya dan Harry Potter

Gegara install pinterest, akhir-akhir ini saya jadi terpapar (lagi) banyak hal tentang Harry Potter. Saya jadi merasa masuk ke dalam Pensieve (cawan ajaibnya Dumbledore yang bisa membawa kita masuk ke ingatan seseorang) memori saya sendiri sekitar 15 tahun yang lalu.

Saya mah anaknya suka menyengajakan diri tenggelam dalam nostalgia sih ya, jadilah mumpung saya lagi pingin cerita, saya akan meninggalkan jejak memori di sini.

Dulu saya kelas 1 SMP ketika pertama kali kenal Harry Potter. Saya yang pada dasarnya nggak suka baca, sama sekali tidak tertarik ketika melihat novel “Harry Potter dan Batu Bertuah” di sebuah kios di Plaza Pondok Gede (yang belum sebesar sekarang dan belum ada Gramedianya). Singkat cerita, kemudian salah seorang sahabat saya (namanya Hilda, teman dekat dari SD) mengajak saya nonton VCD (waktu itu jamannya rental VCD bajakan hehe) “Harry Potter and the Sorcerer’s Stone”.

Awalnya saya kurang tertarik, tapi kemudian hari saya menemukan diri saya bisa nonton film itu berkali-kali dalam sehari (sambil mengerjakan PR). Sampai-sampai saya hapal beberapa dialog dalam film tersebut. Entah bagaimana kemudian saya jadi sangat suka Harry Potter. Kemudian semakin menjadi-jadi ketika saya bertemu Irma, teman sebangku saya di caturwulan kedua.

Irma ini jauh lebih parah lagi tergila-gilanya sama Harry Potter. Suatu hari saya menemukan dia membuka kantong kain berisi gulungan-gulungan tisu makan warna pink yang diikat tali kecil. Terlihat sekilas ada tulisan di tisu itu.

“Apaan itu Ma?” Saya keheranan.

“Ssstt.. jangan berisik ya Septi (dulu saya dipanggilnya Septi), ini ceritanya perkamen” jelasnya pelan-pelan di dalam kelas.

Kemudian mengalirlah diskusi imajinatif antara kami berdua sampai besoknya saya pun ikutan “gila”. Saya ikut nulis-nulis di “perkamen”, nyari batang kayu untuk jadi tongkat sihir, dan tidak lupa menjahit sendiri kantong kain untuk menyimpan semua “barang-barang sihir” milik saya. Karena syaratnya harus jahit sendiri kantongnya hehe..

Waktu itu, setiap hari isinya berimajinasi. Untungnya nilai kami tetap bagus haha.. Nih saya ceritakan betapa indahnya kekurangkerjaan kami.

Jadi ceritanya kami ini sebenarnya murid Hogwarts yang sedang menyamar di dunia muggle pakai identitas samaran. Jadi kami harus punya nama asli. Ceritanya waktu itu nama saya Sharon Flarency, entah itu dapat darimana haha..

Setiap hari, selain harus belajar di sekolah muggle, kami juga harus belajar dan membuat tugas-tugas sekolah dari Hogwarts. Kurang kerjaan banget kan? Serasa PR dari guru kurang banyak kali ya, malah nambahin PR sendiri.

Kami punya jadwal sekolah sihir masing-masing. Tugasnya ya ngarang-ngarang juga.

Pernah ceritanya PR mata pelajaran Sejarah Sihir, saya harus membuat essay tentang Basilisk. Bahannya darimana coba tebak?

Waktu itu belum jamannya Google seperti sekarang. Sejarah Basilisk kami salin dari buku Harry Potter and The Chamber of Secret. Iya, disalin ke tisu makan itu pakai pulpen boxy. Diam-diam tidak ada yang tahu, termasuk orangtua saya sekalipun. Karena mereka kan muggle hahaa..

Pernah juga PR Telaah Rune Kuno, kami buat semacam huruf-huruf sandi yang kami sendiri pun harus selalu lihat contoh setiap menulis.

Sekurang-kurangkerjaannya saya, lebih parah lagi Irma. Waktu itu kan buku Harry Potter baru sampai yang ke-4. Nah, Irma dengan rajinnya menyalin semua mantra yang ada di keempat buku itu dan menghapalkannya. Saya pun sama, cuma saya tinggal menyalin dari kumpulan mantera punya Irma hehe..

Buat apa dihapalkan?

Ya buat klub duel ala ala laaaah.. Saya masih ingat, di kebun belakang laboratorium biologi sekolah, saya dan Irma bergaya-gaya ala Harry dan Malfoy saat di klub duel dan merapalkan berbagai mantera sambil ribut saling bersikeras bahwa manteranya yang paling kuat. Namanya juga pura-pura, ya mana tau efek dari manteranya hahaa..

Yang kocak waktu tersiar berita akan ada razia di sekolah. Kami langsung panik takut “kantong sihir” kami ditemukan guru. Bisa-bisa nanti orangtua kami dipanggil dam kami dikira gila.

Dengan cekatan kami langsung menyembunyikan kantong-kantong itu di bawah reruntuhan kayu di belakang lab. Entah benar atau tidak ada razia saat kami olahraga, yang jelas rahasia kami aman.

Hari-hari berlalu, saya dan Irma makin tenggelam dalam cerita Harry Potter setelah kami menamatkan keempat novelnya plus buku “Quidditch Through The Ages” dan “Fantastic Beasts and Where to Find Them”. Agak bosan berdua, kami berencana menambah anggota kelompok kami.

Sebelum rekrutmen, kami terlebih dahulu membentuk organisasi, GWO (Genuine Wizard Organization) namanya. Kami coba cari-cari teman kami yang penyuka Harry Potter juga untuk kami rekrut secara rahasia.

Entah bagaimana tiba-tiba beberapa teman kami ingin gabung GWO. Akhirnya Irma dan saya membuat syarat bagi yang ingin bergabung menjadi anggota organisasi kami;

  1. Harus baca semu novel Harry Potter termasuk buku Quidditch dan Fantastic Beasts.
  2. Harus membuat “nama asli” dan silsilah keluarga.
  3. Harus membuat kantong sihir, tongkat sihir, dan lain-lain.
  4. Harus menyalin dan menghapalkan mantera-mantera yang sudah dibukukan.
  5. Harus mengerjakan soal yang sudah kami buat.

Saya ingat 2 diantara soal-soal yang kami buat waktu itu;

  1. Apa arti kalimat “Draco Dormiens Nunquam Titilandus” yang ada di lambang Hogwarts?
  2. Mermaid termasuk golongan hewan atau manusia?

Hahaha.. pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa dijawab kalau sudah baca buku sampai yang Fantastic Beasts.

Seperti itulah hari-hari berjalan. Bagi saya itu tidak terlupakan. Entah ya mereka, terutama Irma, masih merasakan hal yang sama atau tidak.

Kapan GWO bubar?

Seingat saya sih tidak pernah bubar ya, hanya kami yang akhirnya sibuk masing-masing. Pisah kelas, berubah peer group, akhirnya kami permanen di dunia muggle hehe..

Sekitar setahunan sejak saya melahap keenam buku tadi sampai akhirnya keluar novel kelima, Harry Potter and The Order of Phoenix.

Yang saya ingat, saat itu kami tidak pernah lagi menulis di “perkamen” ataupun ber-klub duel. Sekolah kami direnovasi total jadi tingkat. Kebun belakang lab sudah tidak ada lagi. Kami semakin serius belajar, persiapan ujian, lalu lulus, masuk SMA.

Setelah itu, kesukaan pada Harry Potter sama seperti orang-orang lainnya. Paling hanya baca novel terbarunya, nonton filmnya, ya seperti para muggle itu lah. Hahahaa..
Ciracas, 5 Desember 2017, 21.54 WIB

Hamba Allah, Bukan Hamba Uang!

Oke, saya butuh sedikit distraksi maka saya mampir ke sini.

Hai semua!

Sudah terlalu lama saya mengabaikan blog ini. Saya cuma ke sini saat butuh saja. Kalau dia pacar, pasti saya sudah diputusin deh. Hehe..

Hari ini di tengah jam kerja, saya ingin sedikit cerita.

Oh iya, by the way, sekarang saya balik kerja di PKPU lagi lho. Setelah tunai janji bakti di Pencerah Nusantara, ternyata saya masih berjodoh dengan PKPU. Ceritanya panjang. Intinya mah saya masih dipercaya untuk berkhidmat di sini, mengoptimalkan segenap potensi untuk belajar dan berkontribusi. #seriusamat

Balik ke niat cerita.

Agak sensitif nih karena akan bahas gaji. Hehe.. Tapi bukan di bagian gajinya sih yang jadi inti ceritanya.

Tiga hari yang lalu ada orang yang cerita ke saya bahwa dia ingin sekali bisa keluar dari tempat kerjanya yang sekarang karena dia sudah bosan dan ingin menggeluti hobinya untuk jadi lahan bisnis. Kebetulan di kantornya sedang ada perampingan SDM. Dia berharap bisa dipecat, tetapi nyatanya tidak.

“Sayangnya aku ga masuk ke daftar yang diberhentikan. Aku ga mau ngundurin diri karena pesangonnya palingan cuma 70 juta. Kalau dipecat bisa sampai 500 juta. Nah hutang aku ada 250 juta.” begitu celotehnya.

Langsung hati saya seperti ingin mengomentari kalimat tersebut dengan lebih panjang lebar lagi. Namun otak saya bilang “tidak usah”. Jadilah saya mau nyampah di sini sahaja, hahaa..

  1. Ternyata benar kata orang. Gaji besar belum tentu bahagia. Manusia tidak akan pernah merasa puas. Makin besar pendapatan, makin besar pengeluaran. Betul sekali.
  2. Sebelumnya saya pernah dapat gaji yang lebih besar dari gaji sekarang. Tapi ternyata sama saja habisnya, haha.. Jadi sebenarnya mau gaji sebesar apa juga tidak akan pernah cukup jika tidak kita syukuri.
  3. Banyak-banyaklah bersyukur. Mungkin gaji saya tidak sebesar dia. Tapi alhamdulillah saya tidak punya hutang, masih bisa makan enak, hidup layak, bermanfaat untuk orang lain. Alhamdulillah.. Semoga Allah swt meridhoi dan memberkahi.

Intinya mah, saya ingin mengingatkan untuk banyak bersyukur dan lebih apik menata hidup. Bukan untuknya, bukan untuk siapa, tapi untukku.. (hazeekk.. cuplikan puisi di AADC nih, pada tau kagak ya? haha..)

Semoga kita senantiasa jadi hamba Allah, bukan hamba uang.

syukur

 

 

Takdir

Selamat pagi, pemirsa!

Di awal 2016 ini saya terinspirasi membuka blog lagi setelah sekian lama tidak saya sentuh. Daaaaann… ternyata ada sebuah pesan dari seseorang yang tidak saya kenal menanyakan sesuatu.

Untitled

Lalu saya jawab:

Untitled 2

Saya sungguh berharap dia membaca balasan saya segera. Tidak seperti saya yang menelantarkan blog sampai mungkin dipenuhi sarang laba-laba.

Jikalau kelak dia betul-betul mendaftar Pencerah Nusantara karena info dari saya (ataupun mungkin dari sumber lain yang lebih cepat meresponnya), tentulah itu sudah ditakdirkan sejak sebelum ia dilahirkan. Namun, jika pun ia tidak jadi, itu juga pasti adalah yang terbaik untuknya. InsyaAllah

Yang ingin saya garisbawahi adalah betapa takdir begitu misterius, sering memberi kejutan dimana-mana. Salah satu film kontroversial yang pernah saya tonton pernah menyajikan dialog bahwa “Tuhan tuh sutradara banget ya”. Embeeeerr…

Kita punya rencana, tapi Dia yang maha berkuasa atas segala rencana.

Pernah nonton film “Now You See Me” nggak?

Di film tersebut, pemeran utamanya luar biasa membuat strategi sejak dia kecil untuk membalas dendam. Rapi, benar-benar well prepared dan well-organized. Namun, pada akhirnya tidak semua rencana berjalan mulus. Karena ada seseorang yang dikirim sebagai agent untuk menyelidiki kasus tersebut. (lengkapnya silahkan tonton sendiri)

Dialog yang disampaikan kurang lebih begini. “Semuanya sudah kuperhitungkan. Namun satu hal yang tidak ada dalam perhitunganku, yaitu kamu”

Terlepas dari rasa “geuleuh” sama adegannya. Hikmah yang bisa kita ambil adalah Dia Yang Maha Mengatur segalanya.

Kembali kepada bahasan kita soal takdir, kita hanya dapat mengerti apa hikmah dari takdir yang menimpa kita pada saat takdir tersebut sudah terjadi. Tugas kita hanya menjalaninya dengan penuh pikiran positif, mengedepankan segala upaya yang kita punya, dan semoga kelak semua berakhir dengan baik.

al baqarah 216.jpg

Selamat berusaha dan berbaik sangka!

 

Jakarta, 6 Januari 2016

Di sela-sela kerja (semoga bos nggak baca, hihi..)

 

Perjalanan Panjang Meminang Pencerah Nusantara #1

Pencerah Nusantara (disingkat PN). Saya mengenalnya pertama kali di pertengahan akhir 2012. Pertemuan yang tidak disengaja sama sekali. Pertemuan yang awalnya hanya seperti angin lalu, tapi ternyata kemudian kembali datang dan datang dalam kehidupan saya.

Hari itu akhir pekan ketika saya sedang bersiap berangkat menuju Garut untuk pendakian Gunung Papandayan. Basecamp kelompok pendakian kami yang berlokasi di Depok mengharuskan saya memikirkan tempat untuk menitipkan motor selama saya dan teman-teman pergi ke luar kota. Akhirnya saya mencoba peruntungan dengan mendatangi Asrama Putri Rumah Qur’an di Gang Kapuk karena di sana ada beberapa orang teman yang saya kenal.

Tanpa diduga, saya bertemu Amri (Perawat PN Pertama) yang merupakan teman dari teman saya di FIK UI. Saat itu ia sedang sibuk berkemas karena konon esok harinya adalah hari pertama pelatihan PN. Sambil sibuk memasukkan barang-barang ke kopernya yang besar, dialog antara kami pun mengalir.

Amri menjelaskan PN sebanyak yang ia ketahui. Ia menyebutkan bahwa salah seorang adik tingkat saya, yaitu Vidia Nuarista, juga lolos seleksi PN di gelombang yang sama dengannya.

Saat itu, ada 2 hal besar yang terbersit di benak saya. Pertama, PN adalah mimpi saya; bekerja di pedalaman, pemberdayaan masyarakat, dan Kesmas banget. Kedua, mengapa informasi sepenting ini bisa luput dari saya? Mengapa tidak ada seorangpun yang memberitahu saya? Bahkan tidak juga Vidia.

Namun, detik kemudian pikiran saya teralihkan akan ingatan bahwa saya baru saja memulai langkah di pekerjaan saya yang sekarang, di Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU. Akhirnya, PN terlupa seiring perjalanan saya menyusuri kawah belerang dan berkemah di Pondok Saladah.

Itu yang pertama. Saya dan PN belum berjodoh.

Kemudian pada sekitaran April 2013, saya kembali bertemu dengannya, dengan PN. Saat itu, tanpa disengaja (lagi) saya terpapar link publikasi pendaftaran PN angkatan ke-2.

Penasaran, saya coba membuka laman tersebut. Saya baca dengan seksama berbagai informasi di dalamnya. Mulai dari profil PN, syarat, serta menonton video animasi kece yang mengilustrasikan PN dengan sangat menarik.

Saya pun kemudian membuka laman pendaftaran, membuat akun, lalu mengisi satu-persatu field di bagian biodata. Ketika sampai pada bagian esai, saya terhenti karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Maklumlah, waktu itu posisi saya di kantor adalah Koordinator Program.

Akhirnya niat saya meminang PN di tahun tersebut saya urungkan. Saya tidak tega meninggalkan kantor dengan kondisi staf program saya ‘anak baru’ semua.

Perasaan saya agak ‘nyeess’ setiap kali email dari PN masuk dan mengingatkan bahwa waktu pendaftaran PN angkatan ke-2 tinggal beberapa hari lagi. Namun, hidup adalah pilihan dan pada saat itu saya memilih bertahan di PKPU.

Itu yang kedua. Saya dan PN masih belum berjodoh.

Ternyata untuk membuat yakin dan akhirnya secara sadar meminang PN, saya harus terlebih dahulu singgah di salah satu lokasi penempatan. Tidak tanggung-tanggung, di pertengahan Oktober 2013 itu saya menyambangi Pulau Ende, Nusa Tenggara Timur.

Sebenarnya tujuan utama perjalanan dinas dari kantor saat itu adalah Kupang. Namun, atas instruksi atasan, saya diminta mencari data survey di lokasi lain yang kira-kira potensial untuk menjadi wilayah baru untuk program.

Maka saat itu juga saya teringat pada sebuah nama; Nurul. Ia adalah lulusan FIK UI (juga seangkatan dengan Amri dan saya) yang seingat saya sedang ditempatkan sebagai perawat PN di Pulau Ende. Tanpa pikir panjang, saya langsung menghubungi Nurul via telepon.

Saya bertanya pada Nurul mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat di Pulau Ende sebagai data awal survey saya. Saya juga meminta padanya untuk menemani saya berkeliling Pulau Ende. Sayangnya, saat itu ternyata adalah masa transisi dimana PN 1 sibuk mendampingi PN 2. Akhirnya saya ke Pulau Ende tanpa ditemani Nurul.

Nah, selanjutnya adalah klimaks alasan saya yakin mendaftar PN di tahun berikutnya.

…bersambung…
(namanya juga perjalanan panjang mah kudu bersambung, hihi..)