Sekelompok buah di pasar induk bersorak riuh rendah menuntut terpenuhinya hak mereka. Sudah berhari-hari sejak keluarnya Risalah Keluarga Buah part I, sesosok makhluk manis (asam-manis tepatnya) diteror oleh berbagai jenis buah-buahan yang masih belum terpublikasikan asal-usulnya. Mulai dari buah yang biasa dijual secara massal sampai yang sok eksklusif, semua meminta pertanggungjawaban nanas yang sudah kepalang tanggung menceritakan cerita yang seharusnya hanya tersimpan di sela-sela durinya yang tajam namun menawan.
Hwaaaaa… Sebetulnya bingung mau cerita dari mana. Saya benar-benar merasa otak nanas tidak cocok digunakan untuk berpikir sekeras ini. Itu sudah lama sekali, keluarga buah ini sudah terlalu lama lahir dan saya bingung harus menyalahkan siapa karena buah-buahan seperti kami tidak punya akte lahir yang resmi. Hmm… Tetapi, untuk memenuhi rasa keingintahuan pemirsa (Ge-eR amat! Siapa juga yg tertarik menyimak kisah sekelompok makhluk yang biasa dirujak, hehe..), saya akan berusaha menceritakan risalah keluarga buah hingga tetes sari nanas terakhir. Hingga ampas saya (ampas nanas maksudnya) tidak bisa diolah menjadi isi nastar karena sebegitu keringnya setelah diperas to the max.
Saat itu hari mulai temaram. Sekelompok buah yang memang sudah akrab sejak lama, yaitu mangga, nanas, dan kedondong, sedang asik bercengkrama membicarakan nasib mereka yang tidak cenderung mengalami progresivitas.
“Kita perlu menambah jumlah personil. Selama ini kita sudah terlalu lama bertiga”, Nanas membuka wacana.
“Kenapa harus nambah personil sih?” protes kedondong yang hingga saat itu sebenarnya belum menerima takdirnya sebagai buah yang mulus di luar berduri di dalam.
“Ya nggak apa-apa..”, jawab nanas santai, membuat kedondong malas bertanya lebih jauh dan lebih memilih memanggil wanita berbaju merah bata yang sedang cuci mata di sore buta.
“KA NANAY!!” teriaknya sekeras tenaga, membuat kami kaget.
“Aha! Ka Nanay aja nanas…” usul brilian si mangga membuat nanas terkagum-kagum seraya terharu karena ternyata mangga memiliki pemikiran visioner (alah, apa sih?).
Saat itu juga senyum simpul tersungging di bibir nanas (sungguh sulit membayangkan nanas punya bibir, sama halnya seperti saat membayangkan ada sejenis bibir dibalik jubah dementor untuk mengecup tawanan Azkaban – kecupan dementor). Cempedak diperdaya beberapa saat, diajak berbincang sana-sini, sebelum akhirnya…
“Ka Nanay, welcome to the fruit family! Ka Nanay jadi cempedak ya, please…”
Udah lupa nih ekspresi Ka Nanay waktu itu. Yang jelas, mohon maaf, ini adalah takdirmu Kak, takdir yang tentunya tak akan pernah kau sesali seumur hidupmu…
Hahahahaaa..
wah, Kak Ira. Pasti asik sekali ya. Sampai dibuat cerita persahabata, ^^