Risalah Keluarga Buah (Part II) – Cempedak

 

Sekelompok buah di pasar induk bersorak riuh rendah menuntut terpenuhinya hak mereka. Sudah berhari-hari sejak keluarnya Risalah Keluarga Buah part I, sesosok makhluk manis (asam-manis tepatnya) diteror oleh berbagai jenis buah-buahan yang masih belum terpublikasikan asal-usulnya. Mulai dari buah yang biasa dijual secara massal sampai yang sok eksklusif, semua meminta pertanggungjawaban nanas yang sudah kepalang tanggung menceritakan cerita yang seharusnya hanya tersimpan di sela-sela durinya yang tajam namun menawan.

 

Hwaaaaa… Sebetulnya bingung mau cerita dari mana. Saya benar-benar merasa otak nanas tidak cocok digunakan untuk berpikir sekeras ini. Itu sudah lama sekali, keluarga buah ini sudah terlalu lama lahir dan saya bingung harus menyalahkan siapa karena buah-buahan seperti kami tidak punya akte lahir yang resmi. Hmm… Tetapi, untuk memenuhi rasa keingintahuan pemirsa (Ge-eR amat! Siapa juga yg tertarik menyimak kisah sekelompok makhluk yang biasa dirujak, hehe..), saya akan berusaha menceritakan risalah keluarga buah hingga tetes sari nanas terakhir. Hingga ampas saya (ampas nanas maksudnya) tidak bisa diolah menjadi isi nastar karena sebegitu keringnya setelah diperas to the max.

 

Saat itu hari mulai temaram. Sekelompok buah yang memang sudah akrab sejak lama, yaitu mangga, nanas, dan kedondong, sedang asik bercengkrama membicarakan nasib mereka yang tidak cenderung mengalami progresivitas.

 

“Kita perlu menambah jumlah personil. Selama ini kita sudah terlalu lama bertiga”, Nanas membuka wacana.

 

“Kenapa harus nambah personil sih?” protes kedondong yang hingga saat itu sebenarnya belum menerima takdirnya sebagai buah yang mulus di luar berduri di dalam.

 

“Ya nggak apa-apa..”, jawab nanas santai, membuat kedondong malas bertanya lebih jauh dan lebih memilih memanggil wanita berbaju merah bata yang sedang cuci mata di sore buta.

 

“KA NANAY!!” teriaknya sekeras tenaga, membuat kami kaget.

 

“Aha! Ka Nanay aja nanas…” usul brilian si mangga membuat nanas terkagum-kagum seraya terharu karena ternyata mangga memiliki pemikiran visioner (alah, apa sih?).

 

Saat itu juga senyum simpul tersungging di bibir nanas (sungguh sulit membayangkan nanas punya bibir, sama halnya seperti saat membayangkan ada sejenis bibir dibalik jubah dementor untuk mengecup tawanan Azkaban – kecupan dementor). Cempedak diperdaya beberapa saat, diajak berbincang sana-sini, sebelum akhirnya…

 

“Ka Nanay, welcome to the fruit family! Ka Nanay jadi cempedak ya, please…”

 

Udah lupa nih ekspresi Ka Nanay waktu itu. Yang jelas, mohon maaf, ini adalah takdirmu Kak, takdir yang tentunya tak akan pernah kau sesali seumur hidupmu…

Hahahahaaa.. :D

 

 

jalan-jalan anti-stress a la saya

lagi iseng2 ngutak-ngatik blog, eh nemu ini…

Setiap orang mempunyai caranya sendiri dalam melakukan apapun dalam hidupnya. Itu yang saya yakini selama ini dan membuat saya senang melakukan berbagai hal dalam hidup saya, termasuk ketika saya sedang merasa sangat jenuh dan tertekan (atau yang lazim disebut “stress”).

 

Hingga hari ini, waktu terbanyak saya habis di kampus. Kegiatan-kegiatan dan jalan hidup yang saya pilihlah yang memaksa saya harus demikian, dengan (sok) dewasa mengambil keputusan sepaket dengan konsekuensinya. Oleh karena itu, saya harus punya cara untuk menghilangkan stress saya tanpa meninggalkan kampus.

 

Selama ini yang paling favorit saya lakukan adalah jalan-jalan (dan kadang duduk-duduk) di sekitar danau dan jembatan teksas (Teknik-Sastra) di UI. Kalo bahasanya anita, danau teksas itu seperti activated carbon yang bisa menyedot kotoran-kotoran yang membuat kita stress. Tapi sejujurnya sih saya lebih menyarankan orang2 stress seperti saya duduk di odong2 (tempat duduk di bawah jembatan) dari pada di jembatannya. Takutnya kalo hilaf, nanti malah pengen bunuh diri…

 

Lumayan lho jalan di seantero fakultas teknik dan FIB, berasa di TMII! Di teknik kan banyak simulasi2 benda2 aneh bikinan anak2 teknik gitu ya, jadi berasa di PP Iptek. Kalo di FIB ada candi2an dsb, berasa di anjungan jatim atau apa gitu deh. Banyak patung2 (dan ada goa) juga lho, lumayan kalo mau foto2, palingan dibilang stress beneran, haha.. (stress!)

 

saya lagi stress banget pas nulis ini, maklum ya :D

 

ditulis tanggal 4 November 2010 (udah lama juga ternyata, hehe..)

Belajar Motor

Menurut saya, belajar mengendarai motor itu ibarat belajar mengendalikan diri. Belajar mengendarai motor itu hakikatnya adalah mempelajari ilmunya, praktik, kemudian selalu berusaha berpikir jernih, cepat mengambil keputusan, tetapi tidak boleh panik.

Untuk kamu-kamu yang sudah menguasai teori mengendarai motor (sampai bisa berjalan2 di sekitar komplek rumah), jangan bahagia dulu. Sesungguhnya itu baru sekitar 20% saja dari mengendarai motor yang sesungguhnya. Belajar motor yang beneran itu di jalan raya! Mungkin itu seperti dunia pascakampus ya.. haha.. Pokoknya jangan ngaku bisa bawa motor kalo belum lancar mengendarainya di jalan raya…

#edisi menyemangati diri sendiri supaya makin lancar bawa motor, hehe…

Balada Anak Kost

Jarang2 nih jam segini saya masih melek, segar bugar. Biasanya mah jam10 malem aja nyawa udah ga tau dimana dan jiwa udah melanglangbuana, hehe.. Padahal tadi nggak minum kopi kok. Hmm, ternyata facebook lebih dahsyat dari kopi dalam membuat orang nggak pingin tidur..

Kalau tengah malam begini, apa yang dilakukan oleh anak kost? Ada yang belajar buat ujian, ngerjain tugas, atau cuma berharap dapat mood untuk belajar dan mengerjakan tugas (seperti saya, haha..). Yang jelas, rasanya beda sekali dengan anak2 rumahan pada umumnya (ya iyalah, hadeehh..)

Bicara tentang anak kost, saya sudah terbiasa sejak tahun pertama hidup merantau (yaelah, ke depok doang) seperti ini. Rasa lapar tengah malam, perasaan rindu dekapan ibu (ciyee..padahal kalo di rumah ngelawan mulu), dll sudah menjadi sahabat yang setia menemani. Satu-satunya yang sama antara di sini dengan di rumah adalah suara abang sekuteng yang begitu khas meramaikan malam, antara mistis dan bersahaja.

Hmm, tinggal saya sendiri yang masih terjaga di rumah ini. Mau browsing untuk membuat karya tulis, tapi belum sepenuhnya semangat. akhirnya saya teringat harus mencuci baju besok pagi2 sekali.

Saatnya tiduuuurr…
11.55 pm

Cemburu

Sebenernya kenapa sih orang itu merasakan yang namanya cemburu? Dan kenapa ada orang2 yang gampang sekali merasakan cemburu seperti saya? Hmm.. Sungguh ini menyiksa!

Back to My Faculty

Ini tulisan judulnya doang yang bahasa Inggris, kagak papa dah buat gaya :p

 

Ok, jadi saya cuma pengen cerita sebenarnya. Hari ini jadwal saya kuliah, 1 dari 2 mata kuliah yang saya ambil semester ini. Begitu lamanya nggak kuliah, sampai2 saya mengalami disorientasi waktu. ckckck, saya ingetnya kuliah jam10. Udah buru2, mandi secepat kilat, setengah ngejar bikun… dan ternyata, tadaaaa! kuliahnya jam1 dong, aaaaarrrggghhh!!!!

 

Jadilah saya tiba2 mengalami kebingungan yang sangat. Mau nongkrong di pgw, males jalannya.. mau ke mushola, hmm… takut malah tidur nanti.. mencari teman yang seumuran, ga ada! maklumlah, mereka pada magang… emang bener kata ghanay, saya autis sekarang! punya dunia sendiri…

 

Akhirnya saya memutuskan untuk nongkrong aja di markas lama, BKM (Balai Kegiatan mahasiswa) FKM. Sepinyaa.. cuma ada 4 orang: imin, firman, dan dua orang wanita angkatan 2008/2009 yg saya lupa namanya :p

 

Yaudah deh, akhirnya saya ngenet aja di sini. Sambil mengobservasi kegiatan anak2 BKM sekarang. Datanglah segerombolan pria 2008 yg unik2. Ada yang berisik teriak2, nge-games, makan soto (hmmm…), dan lain2. Hoho… bahkan gw memergoki bocah2 gizi itu ngegosipin cewek dan ngomong kasar. Abis itu mereka nyanyi lagu “Madu Tiga”-nya Ahmad Dhani, ngomongin goyang karawang, dan pembicaraan2 lain yang ga saya mengerti dengan tawa2 lepas di sela ceritanya…

 

Inikah gambaran Fakultas saya sekarang? Saya harap tidak. Mudah2an saya lagi apes aja jadinya ketemu sama cecunguk2 (kasar ya? maaf..) ini.. Miris deh kalo golongan ini mendominasi. Fiuh!! Gimana mau tenang lulus coba?! -_-”

Risalah Keluarga Buah (Part 1 – Mangga, Nanas, dan Kedondong)

Keluarga Buah (Fruit Family) terbentuk di awal tahun 2010 (atau akhir 2009 ya? aduh, bahkan saya lupa – abisnya ngalir begitu aja sih..). Berawal dari pembicaraan tidak penting antara saya dan Dinda Srikandi.

 

Saya: Kak, kok kakak wanginya kayak mangga sih? Itu parfum laundriannya ya?

 

Nah, sejak saat itu saya iseng memanggilnya “Gadis yang Beraroma Mangga”. Karena kepanjangan, cuma buntutnya aja deh yang saya pake, “Mangga”, begitu saya memanggilnya.

 

Dia agak risih juga kali ya saya panggil dengan nama buah kayak gitu (biar lebih valid, tolong Anda klarifikasi di sini ya Mangga), takutnya pas lewat gang senggol si abang tukang rujak langsung nangkep dia dan bilang “Ini mangganya mau dimutilasi? Pake heroin?” (red-tukang rujak yang di gang senggol mengistilahkan buah yang dipotong2 itu dimutilasi dan heroin adalah garam yang dicampur cabe, sejenis bumbu rujak). Hingga suatu hari, setiap saya memanggilnya mangga dia akan membalas dengan memanggil saya nanas.

 

Saya: kok nanas sih? emang saya berduri?

Dinda: abis kayaknya cocok aja, kamu kan orangnya panas gitu, jadinya panas, nas.. nas.. nanas! hehe…

Saya: -_-”

 

Predikat mangga dan nanas melekat permanen sejak masa itu. Panggilan mesra (apanya?) itupun semakin hari semakin sering kami ucapkan. Kami merasa semua berjalan baik2 saja hingga suatu hari sebuah perasaan akan butuh adanya keluarga baru menyeruak dalam hati kami. Di saat itu (kebetulan) kami mendeteksi adanya seorang wanita yang cocok untuk mengisi kehampaan ini. Dia adalah Meliana Sari.

 

Saya: Mangga, siapa dia?

Dinda: Mhely?

Saya: Tidak, Mangga… Segala indera yang ada pada diriku mendeteksi adanya aura buah2an pada dirinya..

Saya dan Dinda: Oh, dia pasti kedondong! Dari luar bulet mulus2 aja, padahal dia memiliki biji yang berduri..

(Mhely lewat..)

Mhely: Assalamu’alaykum…

Saya dan Dinda: Wa’alaykum salam, kedondong…

Mhely: Kedondong??

Saya dan Dinda: hehehehe…

 

BERSAMBUNG…

Kalo nggak suka, sabar…

Saya nggak suka kalo nanya nggak dijawab, sms nggak dibales, chatting putus begitu saja tanpa pamit padahal saya nungguin. Huff!!

Jadi inget quote di film Full House: “Aku disuruh berkomunikasi dengan kulkas!” Sama! Saya juga nggak suka nggak berkomunikasi dengan manusia.

Kalo saya selalu diuji seperti ini, apa ini pertanda bahwa saya memang belum mencapai standard minimal untuk dikatakan sabar? Ya Allah, ampuuuunn… T_T

Soundtrack of My Life

Ada 2 hal yang bisa mengingatkan saya akan masa lalu alias episode hidup yang udah lewat. Kalo orang lain mungkin bisa nostalgia kalo ngeliat2 foto masa lalu, saya bisa sangat merasa dibuai ke masa lalu kalo mendengar lagu tertentu atau mencium aroma yang khas.

Yang kedua sepertinya agak aneh, tapi serius lho, saya bisa tiba2 teringat masa lalu karena mencium aroma tertentu, parfum misalnya. Nih, saya kasih contoh. Kalo di sekitar saya ada aroma Puteri Body Splash yang Flower Bouquet (maaf menyebut merk secara spesifik, bingung kan mendeskripsikan bau, hehe..), saya akan teringat memori ketika tahun pertama saya di SMA. Waktu itu saya pertama kalinya ikut dauroh Rohis dan pertama kalinya juga ikut pelatihan Olimpiade Sains Nasional di SMA 70 sampe sebulanan gitu. Nah, kenapa bisa inget gara2 parfum? Karena waktu itu saya lagi pake parfum itu, hoho… Terus, saya selalu merasa kalo indera penciuman saya sangat bagus, jadi kalo ada temen kuliah saya yang pake suatu jenis parfum, saya bisa aja langsung nebak “pasti lo pake parfum X aroma Y, ya?”. Itu akan menuai respon “ih, kok tau sih?” dan saya hanya akan cengar-cengir ga karuan, hehe… OK, next…

Yang lebih seru untuk diceritakan menurut saya adalah tentang lagu yang bisa mengingatkan saya pada suatu kenangan. Saya ini orangnya auditori dan sangat suka musik. Mungkin kalo ikut acara Happy Song di tv, saya bisa menang nih! Hihihi… Jadi, jangan heran kalo lagu tertentu bisa begitu bermakna bagi saya. Saya menyebutnya “Soundtrack of My Life”.

Karena bagitu banyaknya lagu yang bisa bikin saya mesam-mesem sampe nangis Bombay seorang diri, saya memutuskan untuk membuat kategori sendiri di blog saya tercinta ini. Berikutnya tunggu saja cerita-cerita saya tentang kisah di balik lagu “Menjaga Hati”-nya Yovie n Nuno yang bisa menghidupkan semangat Sospol dalam diri saya, lagu “Pelan-pelan Saja”-nya Kotak yang bikin saya pingin jalan2 ke Jepara, sampai lagunya Maissy (bener ga sih tulisannya gini?) yang bikin saya kangen jalan2 ke TMII sama Bapak. Pokoknya, hidup saya nggak pernah sepi! Hohohoho…

3 Wanita di 3 Sudut

Hari ini tanggal 3 Agustus, aku bersin-bersin dari pagi. Awalnya aku kira karena bau udang yang menyengat oleh-oleh Lita dari Merauke. Ternyata siang hingga malam ini tenggorokanku sakit pertanda gejala flu.

Aku merasa sedang diuji kesabarannya. Masalah kuliah, organisasi, hidup, semua berebut ingin mendewasakanku. Pukul 9 malam dan aku baru sampai kontrakan, berbarengan dengan tibanya motor Ghanay di depan pintu serta sahutan “Kamu baru pulang?” dari balik maskernya. Aku baru saja menjalani sepenggal episode PSDM lagi di Cibodas yang menyimpan banyak cerita.

Aku merenung di salah satu sudut dekat stop kontak karena HPku sudah tewas dari tadi. Di arah jam 5 aku bisa melihat Lita yang sedang menonton TV di sudut tempat tidur dengan masker bengkoang menutupi wajahnya. Sedangkan Ghanay kudengar sedang berbicara dengan seseorang dengan HPnya di sudut paling belakang kontrakan kami, dapur.

Biasanya aku yang selalu jadi jembatan pembicaraan mereka. Maklum, mereka belum saling kenal dekat. Baru beberapa hari ini saja mereka tinggal bersama. Sedangkan aku sudah 3 tahun sefakultas dengan Ghanay dan 3 tahun juga seasrama dengan Lita. Sayangnya malam ini aku benar-benar lelah di sudutku sendiri, dengan ingus yang mulai terasa mengisi hidungku. Hmm, PR nih. Gimana ya caranya supaya mereka bisa akrab? Chubbie, balik dong ke kontrakan kita… Biar aku ga mati gaya! T_T